#7 Apakah Allah membutuhkan shalat kita?
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
RNA Berbagi Blog hari ini mengutip dari buku yang berjudul "Mengapa Kita Shalat ?" penerbit Yufid.Com
“Apakah
Allah Subhaanahu Wata'ala membutuhkan shalat kita?”
Jawaban Allah Subhaanahu Wata'ala tidak membutuhkan
shalat kita, tetapi kitalah yang butuh untuk shalat kepada-Nya. Sesungguhnya
Dia tidak membutuhkan makhluk-Nya, namun makhlukNya lah yang
membutuhkan-Nya.
Allah Subhaanahu Wata'ala berfirman,
"Hai
manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Mahakaya
(tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia mengendaki, niscaya Dia
memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu).
Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah." (Fathir: 15-17)
Dia telah menciptakan mereka telanjang
tanpa pakaian maupun alas kaki, tidak memiliki apaapa, tubuh yang lemah,
pikiran kaku, tidak dapat membedakan antara makanan dan bara api dan tidak
mampu memberikan manfaat maupun menyebabkan mudharat bagi diri mereka sendiri.
Lalu Allah Subhaanahu Wata'ala memberi mereka makanan, menguatkan dan
memberikan kesehatan, akal dan harta. Dia menundukkan bagi mereka apa yang di
langit dan bumi dan menyempurnakan nikmat-Nya kepada mereka, lahir dan batin.
Setelah pemberian yang banyak ini, -sementara Dia adalah Pemilik kekuasaan dan
di tangan-Nya perbendaharaan langit dan bumi- apakah kamu melihat-Nya
membutuhkan shalat kita?
Tidak, shalat kita hanyalah ungkapan
tegas tentang rasa cinta kita kepada-Nya dan pengakuan terhadap karunia-Nya
serta rasa syukur terhadap nikmat-Nya.
Sesungguhnya
orang-orang yang meremehkan perkara shalat, dikaruniai oleh Allah Subhaanahu
Wata'ala berfirman dengan beragam nikmat seperti yang dikaruniakan-Nya kepada
kita, bahkan boleh jadi Dia memberikan lebih banyak kepada mereka dari apa yang
diberikan kepada kita. Hanya saja kita mengakui karuniaNya itu, sementara
mereka mengingkarinya. Mereka lupa hari kelahiran mereka, hari di mana mereka
tidak memiliki sesuatu pun. Dan mereka lalai hari kematian mereka, hari di mana
mereka meninggalkan apa yang telah mereka kumpulkan bagi para ahli waris mereka
agar dapat bersenang-senang dengannya sementara mereka akan dihisab atas hal
itu. Mereka telah berani terhadap Allah Subhaanahu Wata'ala dan menyombongkan
diri serta enggan beribadah kepada-Nya. Mereka kelak akan menemui
kesesatan.
Sekian artikel hari ini semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaikum.Wr.Wb :)
Komentar
Posting Komentar